Posted by: aloysiusmenulis | March 7, 2012

The Hypocrisy of Violence

Something that was Roman’s expertise which colored their history in blood was their ability to exploit the pain to the maximum to the criminals who soon realized that their body was an opera of agony in the hands of the Roman soldiers. Another vivid display of their Colosseum was also another evidence of how they liked to play with how they were not willing to let you easy on facing death; tortured on the Roman scourge, crucified on the cross, stabbed on the sword of the barbaric gladiator or got slain by the jaw of the furious lions.

Gladiator vs Lion

roman scourges whip

crucifiction

Then people start to curse with what happened in the past that those should be against the human rights, barbaric and uncivilized. That what they did was examples of how we, the human race, should not drawn ourselves to any similar action as it taint the value of the human life.

Well, we should be relieved that we no longer live in the era of the Roman Empire. Though we could easily trace back to the glory of their deeds just by the thumb of our fingers pushing the numbers of the channel on the tube of the millennium; television. Recorded in different medias of course which ranges from magazines, comics, educational programs, or movies.

A question popped out then ‘is the bloody entertainment really gone forever?’. I myself will not convincingly say that it is gone forever as I remember last week when I accompanied my nephew playing one of his favorite games It was not real but it was virtually real. I could experience how I swung my long sword to decapitate the enemy’s head. To the gamers’ satisfaction, the red crimson spilled over the neck. Comes to the television, I could find a channel which displayed a fighting on the ring with the players acting barbaric in their dark gothic outfit screaming in anger. Is is a freestyle wrestling successfully gaining thousands of cheering fans. Movies often depict the dark history of our ancestors into their scenes making it so real that it is such a glorious fame.

Wrestling

Those are for real. Those are not Romans.

What is going on with our society? The fact that we despise the violence, brutality in the past but on the other hand, we collectively, support it in different faces of violence in television, PlayStation, computer games, movies, sports is undoubtedly being the state of hypocrisy. How can we deny the violence in the past but on the other hand, maintain it up to now. What I think nowadays is even to ameliorate the violence itself; a combination of multimedia extravaganza, a chip of technology into compact discs of games, a live through the window of internet. The violence of today is not merely expressed on the hands. It is expressed on the mind of every one of us who could see and hear. We are becoming more accustomed to violence and our mind is well-nurtured with this and it seems normal. One day there is a chance that what we feed our mind will give birth to the worst of the violence itself.

We are not changing, brothers…..We are the same that we still enjoy the exhibition of violence which manifest itself into many things.

If we are considered ourselves living in a more civilized world, we should resist to any act of violence no matter what it appears. We should be able to minimize any ways of violence manifest in our life and start to build a collective awareness among ourselves that violence is not the culture that we should inherit from the past. We should be the agent of change building a legacy for our generation to come; living in peace.

It is now or never.

Advertisements
Posted by: aloysiusmenulis | January 25, 2012

Selamat Pagi Putri kecilku

Ketika jendela dunia terbuka

Disitulah kulihat senyummu

Dalam damai engkau terpukau

Melihat wajahku menyapa

 

Jari mungil lentik menyentuh

Di kediaman hati relung jiwaku

Kusapa dirimu air mata terbasuh

Melihat cinta yang murni dari hidupku

 

Dalam tangismu dan setiap air matamu

Diriku ingin begitu dekat denganmu

Dalam setiap gerak candamu

Disitu jugalah tawaku beradu

 

Tiap kataku adalah syukur dalam asa

Akan hadirmu di dalam detiknya waktu

Akan kutemani engkau hingga dewasa

Biarpun tulangku tak sekuat di masa mudaku

 

Bila nanti keriput menggurat di wajahku

Dan berat tubuhku tak lagi sanggup kutopang

Maka akan kuingat hadirnya dirimu

Senyum pertamamu bagai layar terkembang

 

Berdirilah bersama kami

Didalam erat sebuah genggaman jemari

Tumbuh besar dalam keajaiban

Indahnya sebuah kuasa Tuhan

Posted by: aloysiusmenulis | January 20, 2012

Hair Dryer I’m in love – Kenangan di Kebon Agung

Mumpung lagi ada waktu….(soalnya biasanya suka arisan sama ibu-ibu) mau coba inget-inget pengalaman nginep di desa wisata Kebon Agung di Bantul, Jogjakarta.

Pengalaman yang seru dan pastinya gw salut buat orang-orang yang mempunyai ide memberdayakan desa ini sehingga bisa menambah penghasilan bagi orang-orang di desa tersebut.

Kira-kira 1 jam perjalanan dari Jogjakarta…yang menurut gua sih harusnya bisa lebih cepet. Sopir bisnya lelet banget bo….apa karena di Jogja emang gk bisa ngebut…nyuwun sewu loh mas saya mau nyalip…..wkwkwkwkwk…..

Cukup menghebohkan juga sih karena rombongan gua tuh ada 4 bis gede yang tiba-tiba masuk ke daerah pedesaan dengan sawah di kiri kanan. Setelah turun dari bis anak-anak langsung diarahkan ke Balai pertemuan untuk diatur kamar mereka masing-masing.

‘ayo anak-anak, dipilih, dipilih….laaaah kyk lapak di Jatinegara nih…..ayo langsung ke balai pertemuan yah, belok kanan trus lurus aja……!’ gua teriak2 kayak timer angkot M-26 Bekasi -Kampung Melayu.

Rombongan Tarling (gitar suling) dari Indramayu .....wkwkwkwkwk

cuman yah namanya bocah, ada ajah yang nanya-nanya absurd gitu…naif kali yah…ato lugu… Read More…

Posted by: aloysiusmenulis | January 17, 2012

Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah

I

Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
Cinta digenggam walau apapun terjadi
Tatkala terputus, ia sambung seperti mula
Lika-liku cinta, terkadang bertemu surga
Menikmati pertemuan indah dan abadi
Tapi tak jarang bertemu neraka
Dalam pertarungan yang tiada berpantai

II
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mu pujian untuk semua itu

III
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku, Engkau terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusian-Mu,
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu

IV
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

V
Aku mengabdi kepada Tuhan
bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

VI
Alangkah buruknya,
Orang yang menyembah Allah
Lantaran mengharap surga
Dan ingin diselamatkan dari api neraka

Seandainya surga dan neraka tak ada
Apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?

Aku menyembah Allah
Lantaran mengharap ridha-Nya
Nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya
Sudah cukup menggerakkan hatiku
Untuk menyembah-Mu

VII
Sulit menjelaskan apa hakikat cinta
Ia kerinduan dari gambaran perasaan
Hanya orang
yang merasakan dan mengetahui
Bagaimana mungkin
Engkau dapat menggambarkan
Sesuatu yang engkau sendiri bagai hilang
dari hadapan-Nya, walau ujudmu
Masih ada karena hatimu gembira yang
Membuat lidahmu kelu

VIII
Andai cintaku
Di sisimu sesuai dengan apa
Yang kulihat dalam mimpi
Berarti umurku telah terlewati
Tanpa sedikit pun memberi makna

IX
Tuhan, semua yang aku dengar
di alam raya ini, dari ciptaan-Mu
Kicauan burung, desiran dedaunan
Gemericik air pancuran
Senandung burung tekukur
Sepoian angin, gelegar guruh
Dan kilat yang berkejaran
Kini
Aku pahami sebagai pertanda
Atas keagungan-Mu
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu
dan
Sebagai kabar berita bagi manusia
Bahwa tak satu pun ada
Yang menandingi dan menyekutui-Mu

X
Bekalku memang masih sedikit
Sedang aku belum melihat tujuanku
Apakah aku meratapi nasibku
Karena bekalku yang masih kurang
Atau karena jauh di jalan yang ‘kan kutempuh
Apakah Engkau akan membakarku
O, tujuan hidupku
Di mana lagi tumpuan harapanku pada-Mu
Kepada siapa lagi aku mengadu?

XI
Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, di antara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa dengan-Mu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakan
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau kehendaki

XII
Ya Tuhan, lenganku telah patah
Aku merasa penderitaan yang hebat atas segala
yang telah menimpaku
Aku akan menghadapi segala penderitaan itu dengan sabar
Namun aku masih bertanya-tanya
Dan mencari-cari jawabannya
Apakah Engkau ridha akan aku
Ya, Ya Allah
O Tuhan, inilah yang selalu mengganggu langit pikiranku

XIII
Ya Allah
Aku berlindung pada Engkau
Dari hal-hal yang memalingkan aku dari Engkau
Dan dari setiap hambatan
Yang akan menghalangi Engkau
Dari aku

XIV
Ya Illahi Rabbi
Malam telah berlalu
Dan siang datang menghampiri
Oh andaikan malam selalu datang
Tentu aku akan bahagia
Demi keagungan-Mu
Walau Kau tolak aku mengetuk pintu-Mu
Aku akan tetap menanti di depannya
Karena hatiku telah terpaut pada-Mu

XV
Tuhanku
Tenggelamkan diriku ke dalam lautan
Keikhlasan mencintai-Mu
Hingga tak ada sesuatu yang menyibukkanku
Selain berdzikir kepada-Mu

Posted by: aloysiusmenulis | January 11, 2012

curhat bangun pagi

gila tadi pagi ngantuuuuk banget….mau bangun males, ngeliat bantal tuh berasa kayak orang lagi sakau jengkol…peluk rapeet…

keluar rumah pas berangkat kerja sepi..maklum masih pagi…jadi inget cerita istri gw yg lagi jogging trus pas ngelewatin rumah orang, eh ada suara oooohhh aaaahhh ooohhh dari kamar depan…..buseeet, mau dooooooong ikutan !!

tapi emang pagi-pagi tuh enak apa yah buat pacaran, pernah juga gw ketemu ABG gitu, cowoknya alay banget…mereka berdua tuh yang pelukan rapeeet banget di emperan toko ngadep tembok. gila kali yah, males banget ngeliatin tembok…..kenapa gk nongkrong di jamban ajah sekalian, ‘yang, kamu udah selesai blum….blum nih dikit lagi…ooohh kita keluarnya bareng yuk….1..2..3…..breet..breeeet…bret….

kita suka gk nyadar loh kalo kita suka meng-ekspos hal yang paling pribadi contohnya Read More…

Older Posts »

Categories